• Tampak Depan Perpustakaan

    Tampak dari depan perpustakaan yang berada di lantai dua

  • Komputer Untuk Siswa

    Meja komputer untuk siswa untuk mengakses informasi

  • Ruang baca dan Ruang Referensi

    Ruang baca bagi siswa dan ruang koleksi referensi dan ruang audio visual serta jerman corner

Tampilkan postingan dengan label Pidi Baiq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pidi Baiq. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Pidi Baiq Al-Asbun

Pidi Baiq Al-Asbun
Pidi Baiq Al-Asbun
14:7 Salah satu dari mereka bertanya, yaitu setelah aku melihat dia tercenung beberapa saat tadi: "Ayah, Ayah!"

Maka tanyaku kepadanya: "Apa, Nak?"

Dia bertanya: "Tadi itu ayah berkata tentang bagaimana kalau seandainya kami adalah seekor kucing atau bangau. Lalu bagaimana seandainya ayah adalah seekor monyet?"

Aku tersenyum dan menjawab: "Kalau seandainya ayah seekor monyet, maka tentu saja anaknya juga seekor monyet."
14: 8 Dia berkata: "Oh, tidak mungkin, Ayah."

Maka tanyaku kepadanya: "Bagaimana hal itu tidak mungkin?"

Dia berkata: "Kalau ayah seekor monyet, maka berarti kami tidak akan pernah ada di dunia."

Tanyaku kepadanya: "Mengapa?"

Dia menjawab: "Karena ibu pasti tidak akan mau menikah dengan ayah."

Kami semua tertawa dengan penuh suka cita.

"Al-Asbun merupakan deretan kejutan demi kejutan yang segar. Metafornya asyik-asyik dengan kecerdasan tersembunyi. Saya termenung memikir ulang cara pandangnya. Pidi Baiq, Anda telah melindas ujub saya."
--Taufiq Ismail, sastrawan

Pidi Baiq - Drunken Mama

Pidi Baiq - Drunken Mama
Pidi Baiq - Drunken Mama

"Keluarga besar kisah-kisah non teladan"

"Tapi Bu, kalau Ayah nikah lagi, pasti bukan karena nafsu," saya bilang begitu sambil makan kuaci (satu per satu). Itu komentar saya untuk mereka yang bilang poligami janganlah didasari oleh karena desakan nafsu.
"Kalau Ayah memang karena apa?"
"Ayah cuma mau tahu aja, anak Ayah seperti apa kalau sama perempuan lain."
"Heh!? Eksperimen?"

Pidi Baiq - Drunken Molen

Pidi Baiq - Drunken Molen
Pidi Baiq - Drunken Molen

Cacatnya Harian Pidi Baiq
Kumpulan Kisah Tidak Teladan

Saya bangun siang. Tapi itu masih mending, masih pukul sembilan, karena biasanya saya bangun pukul dua belas siang. Saya memang pemalas. Tapi, untuk apa saya rajin kalau saya merasa diri ini sudah pandai? Samalah itu seperti halnya kamu, tidak perlu hemat lagi karena kamu sudah kaya, sudah mendapatkan pangkalnya (Sales Badminton).

“Buku Ini Jangan Dibaca!”–Jaya Suprana, Pakar Kelirumologi

Hawa jahat jelas sekali memancar dari seluruh Cacatan Harian orang yang bernama belakang Baiq ini. Sayang sekali tak digelar pengadilan untuk membuktikannya karena tak ada pengaduan.
–KHAZANAH

Buku ini sangat aneh. Walaupun saya belum membacanya.
–Candil, Vokalis SEURIEUS