• Tampak Depan Perpustakaan

    Tampak dari depan perpustakaan yang berada di lantai dua

  • Komputer Untuk Siswa

    Meja komputer untuk siswa untuk mengakses informasi

  • Ruang baca dan Ruang Referensi

    Ruang baca bagi siswa dan ruang koleksi referensi dan ruang audio visual serta jerman corner

Tampilkan postingan dengan label Ayu Utami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ayu Utami. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2018

Ayu Utami - Lalita

Ayu Utami - Lalita
Ayu Utami - Lalita
Sandi Yuda menamainya "momen autis". Ia mengira hanya lelaki muda yang mengalaminya. Momen-momen yang meng- asingkan ia dari kota, sedemikian rupa sehingga ia nyaris tidak memahaminya lagi.

Lihatlah Jakarta. Betapa kota ini memiliki warna aneh. Warna yang membikin sesak nafasmu. Kuning-oranye keabu- abuan. Seperti potret tahun enampuluhan. Yuda berada di koridor rumah sakit sekarang. Ia melihat rambang asap pada wajah para pasien yang mengantre, juga orang-orang yang mengantar. Begitu kusam. Ia melangkah melawan arus di lorong rumah sakit Angkatan Darat itu. Jam besuk. Orang- orang berdatangan. Tapi, ia justru baru saja meninggalkan te - mannya, seorang perwira pasukan komando yang masih kehi - langan ingatan akibat suatu kecelakaan yang mereka alami dalam suatu ekspedisi pribadi yang konyol: memburu jimat di sebuah candi yang sedang digali.

Selasa, 13 Maret 2018

Ayu Utami - Cerita Cinta Enrico

Ayu Utami - Cerita Cinta Enrico
Ayu Utami - Cerita Cinta Enrico
Belantara
Inilah ingatan pertamaku dalam hidup: sebuah pohon maha besar. Aku memandang pohon raksasa itu, teduh dan menjulang di hadapanku, dan satu-satunya yang kurasakan adalah takjub. Tak ada yang lain. Aku berada dalam gendong- an dan kami berjalan mengitari batangnya, yang amat sangat lebar, untuk berbelok ke sebuah arah. Setelah itu aku tak ingat lagi. Setelah itu yang ada hanya pengetahuan yang kudapat dari cerita yang sepenggal-sepenggal.

Senin, 12 Maret 2018

Ayu Utami - Bilangan Fu

Ayu Utami - Bilangan Fu
Ayu Utami - Bilangan Fu
Almari
Taruhan. Kau pasti enggan percaya jika kubilang padaku ada sebuah stoples selai berisi sepotong ruas kelingking. Kudapat dari menang bertaruh. Aku tidak gandrung pada benda itu: botol gelas berisi buku berkuku yang mengapung di air for- malin. Pacarku Marja membencinya sampai ia pergi. Katanya, kaca tebal dan cembung membuat efek akuarium. Kelingking itu jadi tampak bagai seekor balakutak. Kukunya yang ungu adalah mata memar, memergokinya setiap kali dia melirik ke sana. Kubilang, kalau takut ya jangan kau menoleh kepadanya. Aku sendiri menikmati kelingking itu sebagai salah satu koleksi benda yang kudapat dari menang taruhan.

Pada dinding kamar kosku ada sebuah almari. Kuper­sem- bahkan untuk menampung kenang-kenangan, cenderamata menang taruhan. Isinya kebanyakan barang tak berharga. Ke- lingking itu, misalnya, tak ada gunanya bagiku. Di sebelah­nya telah kutata pula sebilah iga manusia, melengkung bagai pe- dang, dengan satu pasak salib nisan terbuat dari granit hitam. Meski kasihku akhirnya pergi juga, sesungguhnya tiga benda pustaka-indo.blogspot.com itu sajalah yang membikin dia jeri. Sisa koleksi tidak membuat aku tampak seperti manusia gothik. Aku bukan karakter dari cerita Alfred Hitchcock yang telah klasik. Aku hanya manusia yang mengabdi pada hobiku. Aku adalah seorang pemanjat dan petaruh. Begitu saja.