• Tampak Depan Perpustakaan

    Tampak dari depan perpustakaan yang berada di lantai dua

  • Komputer Untuk Siswa

    Meja komputer untuk siswa untuk mengakses informasi

  • Ruang baca dan Ruang Referensi

    Ruang baca bagi siswa dan ruang koleksi referensi dan ruang audio visual serta jerman corner

Tampilkan postingan dengan label Asma Nadia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asma Nadia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2018

Asma Nadia - Hidayah Buat Sang Bodyguard

Asma Nadia - Hidayah Buat Sang Bodyguard
Asma Nadia - Hidayah Buat Sang Bodyguard
Aisyah Putri diam-diam punya bodyguard ! Terus kabarnya lagi, meski bodyguardnya berkulit gelap, tapi orangnya cool dan manis banget. Apalagi rambutnya rada-rada gondrong kayak aktor-aktor beken korea itu lho! Tapi, ngomong-ngomong sejak kapan sih Puput pakai Bodyguard.
Asiyah Putri. Cewek sipit yang disayangi setengah mati oleh keempat kakaknya yang cowok semua itu, datang lagi. Lebih seru! Ditulis oleh Asma Nadia penulis fiksi remaja terbaik nasional, peraih penghargaan Adikarya Ikapi selama tiga kali.

Jumat, 09 Maret 2018

Asma Nadia - Cinta Tak Pernah Menari

Asma Nadia - Cinta Tak Pernah Menari
Asma Nadia - Cinta Tak Pernah Menari
Tidak banyak penulis cerita pendek Indonesia yang memiliki kesegaran dan kelincahan dalam bercerita. Di dalam buku ini, Asma Nadia mencoba menjembatani antara keterampilan bercerita yang ia kuasai dan tuntutan isi yang mutlak dibutuhkan dalam karya sastra. Beragam tema ia kendalikan dengan baik: dari hal yang rumit, sampai persoalan yang sangat sepele. Asma Nadia seolah-olah hendak membuktikan bahwa sesuatu yang "berat" bisa dikemas menjadi sangat sederhana. Tentu saja itu tidak gampang.
Joni Ariadinata--cerpenis, redaktur Jurnal Cerpen Indonesia



Membaca cerpen-cerpen Asma Nadia, ternyata realisme belum mati. Bagi remaja, cerita-cerita keseharian dengan realitas di kelas sosial pinggiran, sangat penting untuk mengasah nurani. Maka bacalah dan hati kita akan terus terjaga untuk tetap mengasihi sesama.
Gola Gong--novelis dan pengelola Pustakaloka Rumah Dunia



Setting "dunia yang terpinggirkan" senantiasa menarik bagi para penulis cerpen, termasuk Asma Nadia. Tapi dia ternyata juga fasih ketika bercerita tentang kalangan yang sama sekali berbeda, yaitu kalangan "atas" yang terkesan identik dengan hedonisme. Gaya penulisannya pun variatif, dari pendekatan "dramatik emosional" yang cenderung serius, sampai ke cas-cis-cus gaya remaja yang segar. Di antara sepuluh cerpen dalam kumpulan ini, yang paling menarik bagi saya ialah Ibu Pergi Sebulan, yang ternyata justru terbebas dari gaya-gayaan tadi, tapi kuat dalam keunikan gagasannya.
Jujur Prananto---penulis cerpen dan skenario



Buat anak-anak muda yang baca buku ini, I`m telling you, you are reading the right book! Pokoknya baca sampai habis, you`ll be inspired, and grateful, plus lebih berani untuk mikir dan tampil beda. Lebih maju!
Dewi Hughes Spd.---presenter

Kamis, 08 Maret 2018

Asma Nadia - Chat for a Date

Asma Nadia - Chat for a Date
Asma Nadia - Chat for a Date
Chat for a date?

Chatting buat cari pacar, serius?

Ya gitu deh yang terjadi belakang ini di SMA 2000. Para ABG-ers itu kena demam chatting. Bahkan Icha, sohib Aisyah Putri yang belum lama pakai jilbab sampai punya rencana nikah setelah beberapa kali chatting dengan cowok yang punya nickname Cute Guy. Nikah? Ya ampyuuun ... sampai segitunya.

Ternyata lagi demam internet juga melanda abang-abangnya Aisyah Putri, lho. Ke empat cowok yang merasa ganteng itu ikut-ikutan chatting, blogging ... friendster, multiply, face book, you know-lah ...

Eh, jangan lupa ada tips-tips dari Aisyah Putri supaya tetap PD-lah, apa hubungannya pede ama chatting ya? Hehehe. Terus, tips chatting Islami, bahkan ada bonus interview Aisyah dengan Mba Asma Nadia, yang ternyata suka nge-net juga, lho! Makanya bawa buku ini ke kasir biar ngintip halamannya jadi halal. Hehehe ...

Rabu, 07 Maret 2018

Asma Nadia - 101 Dating - Jo dan Kas

Asma Nadia - 101 Dating - Jo dan Kas
Asma Nadia - 101 Dating - Jo dan Kas
`Jo, kita pacaran yuk!` ajak Kas tiba-tiba.`Apaaa?`Jo kaget bukan main. Bukan karena Kas menembaknya di stadiun kereta yang penuh orang, yah... itu juga sih, tapi yang membuat cewek berkerudung itu pusing, dia belum pernah pacaran dan sama sekali tidak minat. Beda sama Kas yang sejak SMU sudah punya gebetan.Jo, anak terakhir dari empat bersaudara yang semuanya cewek. Ketiga kakaknya juga berjilbab, tapi keprihatinan mereka beda banget dengan kelakuan Jo sehari-hari yang tomboi dan seenaknya sendiri. Jo bahkan menyebut mereka `makhluk steril`.Masalahnya, cowok bernama Kas itu ganteng banget. Wajah indo, tubuh tinggi, dan penampilannya keren abis! Wajar kalau Kas jadi rebutan cewek-cewek di kampus. Dan bukan hanya fisik, Jo juga menemukan kesungguhan yang mengagumkan pada diri cowok itu. Seharusnya, Jo bangga dong diminta jadi pacarnya Kas. Eh, iya gak sih?Meski akhirnya menjawab `ya`, Jo masih bingung. Belakangan Kas juga binggung. Terus ada Wiet yang bikin bingung, juga Mita. Lho, kenapa semua jadi bingung? Hehehe.Percaya deh. Ini bukan kisah cinta seekadar. Tapi kisah seru Jo dan Kas yang mencoba punya prinsip dan bertahan dalam derasnya dunia muda!