• Tampak Depan Perpustakaan

    Tampak dari depan perpustakaan yang berada di lantai dua

  • Komputer Untuk Siswa

    Meja komputer untuk siswa untuk mengakses informasi

  • Ruang baca dan Ruang Referensi

    Ruang baca bagi siswa dan ruang koleksi referensi dan ruang audio visual serta jerman corner

Tampilkan postingan dengan label Angelia Putri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angelia Putri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

Angelia Putri - The Fantasy Area

Angelia Putri - The Fantasy Area
Angelia Putri - The Fantasy Area
Salam kenal, namaku Renata Nightblood. Usiaku 16 tahun. Ciri-ciri fisikku adalah berambut panjang berwarna hiam lebat, bola mata berwarna biru, dan kulit putih. Yah... bisa dibilang, aku cukup menarik, tapi sifatku tidak. Aku terkenal dingin dan kurang bergaul. Yah... itu bukan salahku, sih. Aku hanya tidak suka mereka menanyakan kehidupan pribadiku. Jujur saja, aku tidak suka jika mereka menanyakan itu. Ada alasan tersendiri mengapa aku begitu.

Terlepas dari sifatku yang dingin (yang kadang membuat teman-temanku, bahkan para guru enggan berurusan denganku), aku juga dikenal jago memainkan alat music. Oke... kalian tidak perlu bertanya apa alat music yang bisa kumainkan. Aku bisa memainkan hampir setiap alat music. Selain hal itu, kehidupanku bisa dibilang... tidak terlalu buruk.

Di luar, aku memang anak sekolahan biasa. Sekolah bersama teman-teman (dalam artian hanya dalam belajar kelompok. Itupun jika mereka mau), belajar pelajaran umum, bersenda gurau (yang ini jarang kulakukan), dan sebagainya. Tapi, di dalam, aku tidak seperti itu. Aku punya rahasia yang tidak bisa aku ungkapkan pada siapapun termasuk satu-satunya teman terdekatku.

Rabu, 28 Februari 2018

Angelia Putri - Fiction

Angelia Putri - Fiction
Angelia Putri - Fiction
“Yuri! Yuri!!”, teriak seseoarang yang memanggil namaku. Aku menoleh ke arah suara itu, dan ternyata itu Deria, temanku sejak aku masih SD. “Ada apa, sih? Kok, teriak-teriak, Der??” tanyaku sambil berlari ke arah Deria. “Iiihh!!!! Kamu gimana, sih?? PPAM (Perkumpulan Pecinta Anime & Manga), kan ngumpul, Yuri!!!!”, kata Deria mulai ngoceh. “Iya, aku tahu... Baru saja aku mau ke kelas Nayla danTami.”, jelasku saat Deria bersiap-siap ngomong lagi.

“Kak Yuri!!! Kak Deria!!”, aku dan Deria menoleh ke arah suara itu. Rupanya itu Nayla dan Tami. “Hai Nayla, hai Tami.” sapaku pada meeka. “Kak, aku punya gambar baru, nih...” kata Nayla saat dia dan Tami sudah ada dihadapanku dan Deria. “Mana? Mana?” tanya Deria semangat. “Kak Deria sabar dulu, dong?!” ujar Tami mengingatkan.

“Tada!!!” seru Nayla memperlihatkan gambarannya. “Wah... Keren, Nay!” kataku memuji gambar yang dipegang Nayla. “Iiiyy... Curang! Keren banget!” kata Deria sambil merebut gambar Nayla dari tangan Nayla, “Iiiyy... Kak Deria! Kok diambil, sih??” seru Nayla sambil berusaha merebut gambarannya dari tangan Deria kembali. ”Sebentar, dong... Sabar.” katanya nyengir. “Kembalikan saja, Der.” kataku mengambil gambar Nayla yang diumpetin Deria dibelakang punggungnya.